“Kamu Bodoh Sekali!” Awasi Perkataan Kasar (abusive) Yang Tidak Disadari Oleh Orang Tua Dan Dampak Psikologis Pada Anak

Twitter
Lia Sutisna Latif, M. Psi., Psikolog
07 May 2021

Perilaku yang ditunjukkan oleh anak tidak selalu perilaku baik dan benar, walau orang tua seringkali mengajarkan anak-anaknya untuk berperilaku baik di dalam keluarga maupun di lingkungan anak. Ketika anak menunjukkan perilaku yang melanggar norma sosial, dan perilaku agresif merusak, seperti perilaku menganggu adik atau teman, berkata kasar atau marah-marah, atau bahkan perilaku di luar kontrol (seperti mengamuk, atau mengancam), justru ini memberi imbas emosional pada orang tua. Orang tua tidak jarang akhirnya merespon dengan cara menyentil telinga, berbalik memarahi atau bahkan memaki si anak.

Tidak menutup kemungkinan pula, orang tua menjadi begitu marah dan melontarkan kata-kata negatif kepada si anak, seperti, “kamu bodoh sekali,”, “kalau kamu tidak mengerjakan tugas, mama akan usir kamu dari rumah”, “kalau tidak dengar papa, papa akan kunci kamu di kamar mandi” dan lain sebagainya. Kalimat-kalimat seperti ini seakan menandakan orang tua sudah cukup frustrasi untuk menyampaikan pesan kepada si anak agar anak berperilaku baik atau berperilaku sesuai dengan keinginan orang tua. Orang tua kerap menemui kesulitan untuk menenangkan anak, membujuk anak, dan mengingatkan anak sehingga tidak sedikit perkataan orang tua yang tanpa disadari oleh orang tua sudah merupakan kekerasan verbal.

Respon kemarahan orang tua terhadap perilaku buruk si anak dapat pula akan menjadi informasi yang akan diterima si anak untuk kemudian hari ditirukan si anak.

Hal tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai “kekerasan” (abuse) yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya. Kekerasan terhadap anak tidak selalu berupa kekerasan fisik, melainkan dengan melontarkan atau mengucapkan kata-kata kasar merupakan bentuk kekerasan verbal (Legg, T.J., 2019). Umumnya kekerasan verbal digunakan seseorang berulang kali dengan cara mengucapkan kata-kata mengancam, menakuti-nakuti, merendahkan orang lain atau bahkan untuk mengontrol orang lain (Legg, T.J., 2019).

Data yang terangkum oleh Kementerian Kesehatan RI melalui studi yang dilakukan oleh Wahana Visi Indonesia pada bulan Mei 2020 (dalam kompas.com, 2020) menyebutkan bahwa sebanyak 33,8 % anak Indonesia mengalami kekerasan verbal selama pandemik COVID-19.

Berdasarkan hasil studi tersebut, kekerasan verbal yang dilakukan terhadap anak, antara lain meningkatnya volume suara berupa teriakan, bentakan atau bahkan mengamuk. Ada juga perilaku lain yang termasuk dalam cakupan kekerasan verbal, yakni perilaku mengancam anak, mengkritik anak, mengejek anak serta menimpakan setiap kesalahan pada anak.

Tanda-tanda anak yang mengalami kekerasan verbal oleh orang tua.
Selama ini orang tua kurang menyadari perkataan-perkataannya telah menyakiti hati anak atau bahkan sudah termasuk bentuk kekerasan verbal. Orang tua dapat mengenali beberapa tanda pada anak-anak yang mengalami kekerasan verbal, antara lain:

Anak menunjukkan perilaku anti-sosial
Studi yang dilakukan oleh universitas The New Hampshire (Vardigan, B., 2019) menemukan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan verbal menunjukkan risiko munculnya perilaku agresi fisik (seperti menyerang, memukul), kenakalan dan masalah interpersonal.

Muncul perilaku merusak diri sendiri pada anak (self-destructive)
Anak-anak yang mengalami kekerasan verbal dapat memunculkan perilaku merusak diri atau melukai diri sendiri (self-injury behavior), seperti menyilet tangan, membenturkan kepala ke dinding. Perilaku ini ditunjukkan anak dikarenakan anak merasa dirinya tidak berguna atau tidak berharga di dalam keluarga, sehingga anak memilih untuk menutupi rasa sedih, ataupun kekecewaan terhadap dirinya dengan cara melukai diri sendiri.

Gambaran diri anak menjadi negatif (negative self-image).
Anak menerima pesan negatif dari orang tuanya sendiri yang berujung pada penilaian negatif terhadap dirinya. Misalnya ketika orang tua menyebut “anak bodoh” dan terlebih kalimat ini diucapkan berulang kali maka anak menilai dirinya bodoh.

Terhambatnya perkembangan pada anak
Perkembangan pada diri anak menjadi terlambat, khususnya perkembangan sosial anak menjadi kurang berkembang dengan baik. Anak mengalami kesulitan untuk membina hubungan pertemanan dengan anak-anak seusianya, anak merasa dirinya seakan “tertinggal” dan tidak percaya diri atau bahkan merasa dirinya tidak memiliki potensi baik secara akademik maupun non-akademik di sekolahnya. Anak menjadi menarik diri, enggan bergabung bersama dengan teman-teman seusianya dikarenakan anak merasa dirinya memiliki banyak kekurangan.

Mengasuh anak atau sejumlah anak di rumah memang bukanlah perkara mudah bagi para orang tua. Dampak psikologis baik hal yang positif maupun negatif akan tetap diterima si anak ketika anak masih di bawah pengasuhan orang tua. Akankah anak tumbuh menjadi pribadi yang positif atau negatif di masa akan datang? Semua kembali pada kendali orang tua pada saat mengasuh anak-anaknya. Hal ini perlu diperhatikan bagi orang tua sebelum mulai memperlakukan anak-anaknya termasuk segala konsekuensi yang dilakukan orang tua kepada anak, seperti apa efeknya kalau anak sering dimarahi atau anak sering di bawah ancaman orang tua setiap kali belajar di rumah.

Susan Heitler (dalam PsychologyToday.com, 2014) mengingatkan para orang tua untuk menempatkan dasar dalam pengasuhan anak, yakni cinta tanpa syarat (unconditional love) yang sepatutnya dimiliki oleh orang tua. Seringkali kita mendengar ungkapan “sayang anak”, apakah sejalan dengan perlakuan yang selama ini diberikan kepada anak sebagai ungkapan rasa sayang orang tua terhadap anaknya? Menurut Heitler, cinta tanpa syarat (unconditional love) yang dimaksud adalah rasa kepedulian dan mampu menciptakan ikatan positif (positive bonding) antara anak dan orang tua. Adanya kepedulian dan ikatan positif ini akan menjadikan hubungan anak dan orang tua yang aman, maksudnya adalah anak merasa nyaman dengan kehadiran orang tua dan sebaliknya.

Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua guna menghindari terjadinya perkataan kasar atau mengancam yang akan dilakukannya terhadap anak?

Refleksi orang tua
Orang tua perlu menyadari sejak dini apa yang menjadi kemarahan dan rasa frustrasi yang sebenarnya dimiliki oleh orang tua. Kedua hal ini ternyata sulit dikendalikan oleh orang tua sendiri sehingga orang tua perlu mengukur diri seberapa mampu dirinya mengatasi serta mengontrol kemarahan dan frustrasi dalam dirinya.

Jika memang ternyata orang tua menyadari bahwa dirinya memiliki masalah pada ambang kemarahan, alangkah baiknya orang tua dapat menemui Psikolog atau Psikiater guna membantu dirinya memahami kemarahan dan bagaimana mengelolanya dengan benar. Kendati demikian orang tua perlu mengetahui bahwa apa yang terjadi pada dirinya akan memberikan efek psikologis terhadap anak-anak mereka.

Menaruh empati pada anak
Pahami kesulitan anak dan ini menjadi pengingat orang tua bahwa kemampuan anak itu jauh berbeda dengan kemampuan yang sudah dimiliki oleh orang tua. Contohnya saat anak sulit mengerjakan tugas matematika, tidak serta merta orang tua harus langsung memarahi anak atau bahkan menilai kelemahan anak. Orang tua perlu memahami apa yang menjadi kesulitan si anak sehingga anak merasakan empati dari orang tuanya.

Gunakan situasi lain
Saat menyampaikan pesan bahwa orang tua tidak menyukai pilihan anak atau anak bertingkah laku kurang baik, orang tua dapat menegur dengan cara becanda kepada anak, sehingga anak tetap menerima pesan positif dari orang tuanya.

Menjadi pendengar anak
Selain menaruh empati terhadap anak, orang tua perlu juga mendengar pendapat anak, atau ada pesan anak yang selama ini orang tua belum pernah dengar. Dalam pengasuhan, komunikasi bukan berlaku satu arah alias hanya orang tua yang boleh bicara dan anak hanya mendengar. Orang tua perlu juga mendengar opini atau pendapat anak terhadap persoalan yang dihadapi. Hal ini sangat berguna bagi orang tua untuk dapat mendeteksi atau mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi pada diri anak.

Fokus terhadap permasalahan sekarang
Ketika berkomunikasi dengan anak dan orang tua merasa tidak setuju atau tidak menerima perlakukan baik dari anak. Orang tua perlu menyampaikan apa yang dirasakan kepada anak dan membahas cara penyelesaiannya secara bersama. Hal terakhir yang perlu diingat adalah orang tua sebaiknya tidak mengungkit kesalahan-kesalahan anak pada masa lalu.

Referensi

Vardigan, B. (2019). Yelling at children. Health Day.com
Heitler, S. (2014). Verbal abuse of children: What can you do about it? PsychologyToday.com
Anak dan Remaja rentan kekerasan verbal di masa pandemic (Juli,2020). Lifestyle. Kompas.com
Legg, T.J. (2019). What is verbal abuse? How to recognize abusive behavior and what to do next. Healthline.com

Baca Juga Article Lainnya

Main Yuk! Menghadapi Kejenuhan Saat #liburandirumahaja

Amanda Margia Wiranata, S.Psi., M.Si., Psikolog

“TERKADANG MAU, TERKADANG TIDAK”: STRATEGI MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR ANAK SELAMA PJJ

Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog

40 Komentar

Lidya Elisca

Memberikan Yang Terbaik Untuk Anak-anak Merupakan Tanggung Jawab Dr Orang Tua . Cara Menghadapi Psikologis Pada Anak Harus Dengan Kesabaran ,kelemahlembutan, Serta Adanya Komunikasi Erat Antara Org Tua Dan Anak. Menerima Dirinya ,membantunya Utk Tumbuh Adalah Tugas Dari Org Tua Dan Membantu Anak Dlm Memahami Keadaan Dirinya Perlahan Demi Perlahan Utk Menciptakan Keadaan Yang Baik Utk Anak.

Aninah Malqueen

Menjadi Seorang Ibu Yang Baik Memang Sangat Sulit. Apalagi Bisa Masa Kecil Si Ibu Juga Dibayang Bayangi Dengan Kekerasan Verbal Dan Fisik. Sehingga Mempengaruhi Dengan Cara Pola Mengasuh Si Anak Dikemudian Hari. Terima Kasih Atas Sharing Yang Bermanfaat Ini. Saya Akan Menjalankan Sebaik Mungkin Atas Segala Saran Dan Ilmu Parenting Yang Diberikan. Semoga Hubungan Ku Dengan Sikecil Menjadi Lebih Baik Dan Positif.

Dyah Ayu Ningrum

Aku Kadang Suka Khilaf Dengan Emosi Yg Sulit Untuk Terkendali Karena Melihat Kenakalan Anak² Q ..dan Sangat Susah Untuk Menahan Amarah Dan Emosi Ku Selama Ini ..dan Tanpa Ku Sadari Aq Telah Melakukan Kesalahan Kepada Anak² Q Dengan Mengucapkan Kata² Kasar Yg Seharusnya Tidak Didengar Oleh Anak² ... Insyaallah Kedepannya Aq Akan Menggunakan Perkataan Yg Lebih Baik Lagi Untuk Berbicara Pdanya .. Artikel Ini Sangat Bagus Dan Sangat Membantu Untuk Tau Dampak Dari Perkataan Kasar Orang Tua Ke Anak ...

Lilis Setiyaningsih

Emosi Yang Tidak Terkontrol Kadang Membuat Ibu Berkata Kasar Pada Anak,maka Dari Itu Saya Sadar Dan Belajar Untuk Mengganti Kata Kata Kasar Dengan Perkataan Yang Lebih Baik Lagi Tanpa Adanya Emosi. Terimakasih Artikelnya Sangat Menginspirasi Dan Bermanfaat Sekali. Semoga Tidak Ada Lagi Ibu Yang Berkata Kasar Pada Anak Anak Nya.

Sri Yuliani

Saya Jadi Tersadar ,apa Yg Saya Lakukan Selama Ini Salah , Terimakasih ,artikel Ini Membuat Say Belajar ,Bahwa Orang Tua Sangat Berpengaruh Terhadap Perkembangan Mental Ny , Mungkin Karna Emosi Say Jdi Tidak Bisa Terlalu Menyadri Bahwa Apa Yg Saya Lakukan Selama Ini Tidak Benar , Saya Lupa Bahwa Anak Perlu Di Dengar Kan Juga Pendapat Nya , Setelah Membaca Artikel Ini ,saya Akan Merubah Cara Saya Jika Ingin Memarahi Anak ,dan Saya Akan Ikuti Semua Saran-saran Dari Artikel Ini ,agar Perkembangan Anak Saya Tumbuh Dengan Maksimal . 😥 Terimakasih Artikel Ini Sangat Membantu Saya

Ema Maeemana

Terkadang Sebagai Manusia Biasa, Kadang Kita Tidak Bisa Menahan Emosi Pada Anak Saat Anak Melakukan Hal Yang Tidak Sewajarnya. Kadang Rasanya Ingin Marah Sambil Berkata Kasar. Tapi Dengan Membaca Artikel Diatas Saya Sebagai Orang Tua Jadi Paham, Jika Anak Menerima Pesan Negatif Dari Orang Tuanya Sendiri Yang Berujung Pada Penilaian Negatif Terhadap Dirinya. Misalnya Ketika Orang Tua Menyebut “Nakal Sekali Kamu” Dan Terlebih Kalimat Ini Diucapkan Berulang Kali Maka Anak Menilai Dirinya Adalah Anak Yang Nakal. 😞 Semoga Kita Sebagai Orang Tua Bisa Lebih Bijak Lagi Dan Menahan Berkata Kasar Terhadap Anak.

Achy Lovely

Assalamualaikum Wr Wb "Anak Adalah Peniru Yg Baik" Kata2 Itu Pernah Kita Dengar Dan Memang Benar Adanya.dan Siapakah Yg Mereka Tiru Pertama Kali,ya Sudah Pasti Orang Tuanya Sebagai Orang Pertama Paling Dekat.karena Orang Tua Adalah Contoh Ideal Dalam Pandangan Anak,dalam Bertingkah Laku,dan Sopan Santunnya Pun Akan Di Tiru. Termasuk Juga Perilaku Baik Maupun Perilaku Buruk Dari Orang Tuanya. Orang Tua Memiliki Peran Utama Dalam Keluarga Dan Sebagai Pendidik Pertama Bagi Anak2nya Orangtua Dikatakan Sebagai Pendidik Pertama Karena Pendidikan Dari Keluarga ( Dalam Hal Ini Orangtua ) Mempunyai Pengaruh Besar Bagi Kehidupan Anak Di Kemudian Hari. Sudah Seharusnya Disadari Oleh Kita Termasuk Saya Sebagai Orang Tua Utk Selalu Berperilaku Baik,bisa Lebih Menjaga Sikap Dan Tindakan Ketika Sedang Bersama Dengan Anak2 Dan Juga Menjdi Pendengar Yg Baik Utk Mereka Seo Anak Membutuhkan Panutan Atau Contoh Dalam Keluarga Sehingga Dengan Contoh Tsb Mereka Bisa Mengaplikasikan Dalam Kehidupan Sehari2

Nurfiana Bu'e Juna

Nurfiana Bu'e Juna

Terkadang Tanpa Kita Sadari Kita Sebagai Orangtua Sering Emosi Meledak Dan Hampir Berkata Gak Enak Sama Sikecil,,mungkin Karena Emosi Gak Bisa Terkontrol Apalagi Posisi Orangtua Dalam Keadaan Capek,,padahal Itu Semua Tidak Diharapkan Oleh Sikecil,sikecil Adalah Peniru Yang Baik,kata Kata Kasar Itu Bisa Terekam Dengan Baik Dimemori Otak Anak.. Dari Baca Artikel Ini Saya Sebagai Orangtua Sangat Berterimakasih,bisa Menyadarkan Kekhilafan Kita Terhadap Sikecil,semoga Kita Jadi Orangtua Yang Sabar Dan Bijak..aamiin🙏

Intan Meutia Ramadhani

Intan Meutia Ramadhani

Artikelnya Sangat Bermanfaat, Memberikan Pengetahuan Untuk Saya Sebagai Orang Tua, Agar Terus Belajar Dan Memahami Cara Berkomunikasi Yang Baik Pada Anak Agar Tumbuh Menjadi Anak Yang Positif Dengan Tutur Kata Yang Baik Dan Sopan.

Desy Arisanti

Saya Adalah Seorang Ibu Yg Mempunyai 3 Orng Anak Setelah Membaca Artikel Ini Perasaan Sy Jd Sedih Menyesal Karna Tanpa Sadar Sy Sering Melakukan Seperti Itu Kepada Anak Bila Sy Sedang Marah😭 Sangat Amat Menyesal Sekali Artikel Ini Membuat Sy Sadar Dengan Sikap Buruk Saya,, Semoga Kedepannya Sy Bs Lebih Baik Lg Menjalankan Tugas Sebagai Ibu🙏🙏

Mayanya Japoeng

Good Artikel

Wulan Shadamulan

Suatu Hal Yang Sangat Aku Takutkan Dengan Psikologis Anak, Karena Aku Termasuk Seperti Salah Satunya, Selalu Saja Membandingkan Kedua Nya, Dan Lebih Sering Membentak Sikakak Dengan Teriakan2, Alhasil Sikakak Jadi Keras Kepala, Semakin Susah Dinasehati ,susah Diatur, Memang Benar2 Sangat Berdampak Sekali Pada Sikap&perilaku Sianak. Saya Berfikir Jika Mendidik Dengan Keras, Akan Membuatnya Menjadi Penurut, Tapi Justru Sebaliknya, Si Anak Akan Semakin Melawan. Setelah Membaca Detail Artikel Ini, Saya Jadi Sadar Bahwa Kita Sebagai Orang Tua Menjadi Cerminan Sikecil, Jadi Sebisa Mungkin Saya Akan Merubah Cara Mendidik Anak Saya , Tidak Lagi Dengan Teriakan, Kata2 Keras Dan Kasar. Terimakasih Lotte Chocopie, Artikel Ini Benar2 Sangat Bermanfaat Untuk Saya. Agar Bisa Menjadi Orang Tua Yang Lebih Baik Lagi Dalam Bersikap Dan Mendidik Sikecil.

Anita Tri Anggrahini

Setelah Membaca Artikel Tersebut, Alangkah Baiknya Kita Sebagai Orang Tua Lebih Dapat Menahan Emosi Dan Tidak Terlalu Memaksakan Diri Supaya Anak Bisa Segalanya. Karena Anak Merupakan Aset Bagi Masa Depan Keluarga,masyarakat Dan Bangsa Yang Harus Kita Jaga.

Rehulina Primasi

Artikelnya Sangat Membuat Kita Para Orang Tua Menjadi Sadar Bahwa Setiap Anak Otu Berharga

Tati Sutarti

Dibaca Ampr Berkali Kali Supaya Lebih Faham. 👍👍

Wiwik Mardiyanti

Bagus Artikelnya,jangan Sampai Kita Sebagai Orang Tua Bersifat Abusive Terhadap Anak,sayangi Anak Karena Dialah Anugerah Terindah Dari Tuhan

Istia Budiarti

Artikel Ini Sangat Bermanfaat Sekali, Karena Masih Banyak Orang Tua Yang Tidak Sadar Bahwa Ia Telah Melakukan Kekerasan Terhadap Anaknya. Karena Berpatokan Bahwa Kekerasan Hanya Memukul Dan Kekerasan Fisik Lainnya. Artikel Ini Jg Sebagai Pengingat Untuk Diri Sendiri Agar Lebih Sabar Menghadapi Anak2.

Tati Sutarti

❤️❤️❤️

Tati Sutarti

Trimakasih Ibu Grace Eugenia, Artikel Nya Menarik Dan Sangat Bermanfaat Terutama Untuk Kami Para Orang Tua. Dan Yg Paling Utama Bagi Saya Selaku Orang Tua Agar Lebih Bijak Dalam Mengontrol Emosi Demi Kebaikan Psikologi Anak. ❤️❤️

Tati Sutarti

Keren

EmbunAsha

Terimakasih Atas Informasinya Sangat Bermanfaat. Artikel Ini Benar Benar Membantu Menyadarkan Saya Sebagai Orang Tua Yang Masih Suka Berkata Yang Kasar Kepada Anak Secara Tidak Saya Sadari Itu Menyakiti Hati Si Kecil.

EmbunAsha

Setelah Saya Baca Artikel Ini Saya Sangat Menyesal Karena Sering Sekali Membentak Si Kecil Tanpa Sengaja Saat Sedang Lelah Dengan Pekerjaan Rumah. Terimakasih Ya Moms Artikel Ini Sangat Keren Dan Bermanfaat.

Aksara Langit

Terimakasih Sudah Sharing Informasi Yang Sangat Menarik Dan Bermanfaat Seperti Ini. Semoga Sukses Selalu Ya.

Nur Hasanah Harahap

Artikel Yg Wajib Dibaca Oleh Para Orang Tua Ataupun Calon Orang Tua.

Aluna Ghufron

MasyaAllah Beneran Tertampar Dengan Artikel Ini 😭😭🥺🥺 Mulai Sekarang Akan Berjanji Pada Diri Sendiri Untuk Bisa Menahan Emosi Dan Mengendalikan Perkataan Agar Tumbuh Kembang Si Kecil Tetap Optimal. Terimakasih Moms Grace. 🙏

Ima Namaku Ima

Ya, Mengenaskan Sekali Ya Jika Sampai Ada Orang Tua Yang Mengucapkan Kata-kata Kasar Terhadap Anak-anaknya. Saya Selaku Tante Dari Keponakan Saya Yang Lebih Lama Berada Di Rumah Neneknya Dibandingkan Di Rumah Orang Tuanya, Sedapat Mungkin Saya Tahan Untuk Tidak Berkata Kasar/ Abusive . Saya Tidak Sanggup Akan Dampak Ke Depannya Nanti Meskipun Keponakan Saya Terbilang Agak Bandel Dan Suka Cuekin Perkataan Saya. Namun Dengan Sedikit Pujian Kadang-kadang Keponakan Saya Menurut Omongan Saya Agar Ia Mengerjakan Tugas Sekolah, Mandi Jangan Lama-lama Nanti Masuk Angin. Terkadang Saya Tidak Bisa Menahan Emosi Saya Jika Bandelnya Kumat, Nama Hewan Pun Akan Sempat Terlontar Tapi Cukup Dalam Hati Saja, Astaghfirullah. Lalu Saya Ubah Dengan Bahasa Yang Lain Agar Keponakan Saya Menurut Yaitu Bang Nanti Tante Mau Ke Minimarket Beli Choco Pie Kalau Mau Ikut Buruan Mandinya Atau Buruan Kerjakan Tugas Sekolahnya Atau Jangan Ganggu Adik Sepupu Mu Nanti Tidak Tante Ajak Ke Minimarket. Berhasil , Yes

Dani Malik

Benar Sekali Moms .. Aku Sudah Merasakannya..terkadang Sat Seeang Lelah Lelahnya.. Anaklah Yang Jadi Sasaran. Membentak Dan Memarahinya . Meskipun Setelah Itu Aku Sangat Menyesal Dengan Perbuatanku Kepada Anakku. Semoga Aku Bisa Jadi Ibu Yang Lebih Baik Kedepannya 😂. Thanks Untuk Ilmunya Lotte Choco Pie 🙏

Dani Malik

Benar Sekali Moms .. Aku Sudah Merasakannya..terkadang Saat Sedang Lelah Lelahnya.. Anaklah Yang Jadi Sasaran. Membentak Dan Memarahinya . Meskipun Setelah Itu Aku Sangat Menyesal Dengan Perbuatanku Kepada Anakku. Semoga Aku Bisa Jadi Ibu Yang Lebih Baik Kedepannya 😂. Thanks Untuk Ilmunya Lotte Choco Pie 🙏

Meicy Siagian

Benar Sekali Sering Kali Kita Sebagai Orangtua Berada Di Ambang Marah Diluar Kendali Dan Tanpa Sadar Atau Mungkin Secara Sadar Mengeluarkan Dan Melakukan Hal Yang Kasar Pada Anak Kita. Pasti Kita Pernah Melihat Wajah Anak Kita Yang Merasa Terkejut, Heran Atau Bahkan Langsung Menangis Karena Ucapan Kasar Kita. Semua Itu Akan Tersimpan Dalam Memorinya Dan Akan Berakibat Pada Pertumbuhan Psikologisnya. Ya Sebagai Orangtua, Kita Harus Bijak Mengendalikan Emosi, Berbicara Dan Melakukan Hal Yang Tepat Dalam Mendidik Anak-anak Kita. Tidak Mengeluarkan Perkataan Dan Perlakukan Kasar. Anak- Anak Tetaplah Anak-anak Yang Sering Kali Tidak Menyadari Bahwa Terkadang Perbuatannya Tidak Baik Atau Tidak Benar. Tugas Kita Mendidiknya Dengan Baik. Anak Seperti Pohon Yang Terus Tumbuh, Harus Dipupuk Dan Dipelihara Dengan Baik, Agar Tumbuh Dan Berkembang Dengan Baik Pula.

EmbunAsha

Waah Ternyata Perkataan Kasar Yang Secara Tidak Sadar Kita Ucapkan Kepada Anak Memiliki Akibat Yang Sangat Buruk Untuk Tumbuh Kembangnya Ya Moms, Telah Terima Kasih Atas Artikel Yang Sangat Bermanfaat Ini.

Yuyum Julaeha

Betul Sekali...sebagai Orang Tua Kita Harus Bisa Menjaga Perkataan Kita Kepda Anak Selain Anak Itu Peniru Ulung Juga Perkataan Kasar Akan Merusak Otak Anak ,jadi Bun...sebisa Mungkin Hindari Perkataan Kasar Kepada Anak

Adinda Xhima Harahap

Ya, Perkataan Kasar Sebaiknya Di Ganti Dengan Bahasa Yang Tegas. Orang Tua Wajib Belajar Menahan Emosi. Jangan Sampai Anak Mendengar Perkataan Kasar Yang Keluar Dari Mulut Seorang Ibu Ataupun Ayah.

Audy Sabina

Menjadi Orang Tua Memang Tidak Mudah. Harus Banyak Ekstra Sabar. Kalo Kita Ingin Anak Kita Menjadi Anak Yang Baik, Tentunya Kita Juga Harus Mencotohkan Yang Baik, Berkata Baik Berprilaku Yg Baik Juga. Karena Apa Yg Kita Tanama Itu Yang Akan Kita Tuai Nanti. Semoga Kita Bisa Menjadi Orang Tua Yg Baik Bagi Anak-anak Kita.

Ima Namaku Ima

.

Ima Namaku Ima

Perkataan Kasar Itu Menyakitkan Hati Anak² Dan Juga Orang Dewasa.

Ima Namaku Ima

Ya, Mengenaskan Sekali Ya Jika Sampai Ada Orang Tua Yang Mengucapkan Kata-kata Kasar Terhadap Anak-anaknya. Saya Selaku Tante Dari Keponakan Saya Yang Lebih Lama Berada Di Rumah Neneknya Dibandingkan Di Rumah Orang Tuanya, Sedapat Mungkin Saya Tahan Untuk Tidak Berkata Kasar/ Abusive . Saya Tidak Sanggup Akan Dampak Ke Depannya Nanti Meskipun Keponakan Saya Terbilang Agak Bandel Dan Suka Cuekin Perkataan Saya. Namun Dengan Sedikit Pujian Kadang-kadang Keponakan Saya Menurut Omongan Saya Agar Ia Mengerjakan Tugas Sekolah, Mandi Jangan Lama-lama Nanti Masuk Angin. Terkadang Saya Tidak Bisa Menahan Emosi Saya Jika Bandelnya Kumat, Nama Hewan Pun Akan Sempat Terlontar Tapi Cukup Dalam Hati Saja, Astaghfirullah. Lalu Saya Ubah Dengan Bahasa Yang Lain Agar Keponakan Saya Menurut Yaitu Bang Nanti Tante Mau Ke Minimarket Beli Choco Pie Kalau Mau Ikut Buruan Mandinya Atau Buruan Kerjakan Tugas Sekolahnya Atau Jangan Ganggu Adik Sepupu Mu Nanti Tidak Tante Ajak Ke Minimarket. Berhasil

Nur Hasanah Harahap

Ya, Mengenaskan Sekali Ya Jika Sampai Ada Orang Tua Yang Mengucapkan Kata-kata Kasar Terhadap Anak-anaknya. Saya Selaku Tante Dari Keponakan Saya Yang Lebih Lama Berada Di Rumah Neneknya Dibandingkan Di Rumah Orang Tuanya, Sedapat Mungkin Saya Tahan Untuk Tidak Berkata Kasar/ Abusive . Saya Tidak Sanggup Akan Dampak Ke Depannya Nanti Meskipun Keponakan Saya Terbilang Agak Bandel Dan Suka Cuekin Perkataan Saya. Namun Dengan Sedikit Pujian Kadang-kadang Keponakan Saya Menurut Omongan Saya Agar Ia Mengerjakan Tugas Sekolah, Mandi Jangan Lama-lama Nanti Masuk Angin. Terkadang Saya Tidak Bisa Menahan Emosi Saya Jika Bandelnya Kumat, Nama Hewan Pun Akan Sempat Terlontar Tapi Cukup Dalam Hati Saja, Astaghfirullah. Lalu Saya Ubah Dengan Bahasa Yang Lain Agar Keponakan Saya Menurut Yaitu Bang Nanti Tante Mau Ke Minimarket Beli Choco Pie Kalau Mau Ikut Buruan Mandinya Atau Buruan Kerjakan Tugas Sekolahnya Atau Jangan Ganggu Adik Sepupu Mu Nanti Tidak Tante Ajak Ke Minimarket. Berhasil , Yes

Adinda Xhima Harahap

Sebagai Orang Tua Perlu Juga Belajar Menggunakan Kata-kata Yang Baik, Belajar Menekan Ego Yg Meledak Ledak.